Duhai calon pemilik tulang rusukku, aku akan segera hadir dalam dinginnya malam dengan hangatnya jiwa. Ku tunggu hingga Ijab Kabul terucap dari lisanmu. Aku akan menjaga dalam harumnya semerbak dalam jiwaku, menunggu hingga engkau menahkodai bahtera kita. Ku kan berhijab dengan sempurna dengan tak selalu mengikuti arah arus angin yang berhembus.
Duhai calon imam dalam sholatku, aku akan selalu hadir dalam cintamu kepada Allah, dengan sigap aku akan menghamparkan sajadah sebagai makmum InsyaAllah akan menyempurnakan sholat kita. Deru do'amu teriring "aamiin" dari lisanku.
Dalam hening malam bulir air mata tak henti ku teteskan bercahayakan munajat doa.
Duhai calon pemilik tangan gagah yang menolongku ketika aku terpuruk dan jatuh,, lindungi aku dalam perjalanan hidup kita,, ketika engkau terluka kau kubalut dengan cinta jiwa yang merona, menyembuhkan segala perih dalam jiwamu.
Duhai calon pengusap air mataku, sungguh engkau takkan rela calon bidadarimu ini menangis, dan kan kuhaluskan telapak kakimu dengan mencucikannya ketika engkau pulang dari berjihad.
Duhai calon ayah dari para mujahid-mujahidahk kita, aku sebagai madrasah pertama sebagai sumber ilmu dari anak-anak kita, kan kutanamkan ilmu agama agar mujjahidah kita takut akan Robbnya, santun pada kedua orang tuannya, menghormati orang-orang yang lebih tua. Akhlakul karimah yang baik dan kusisipkan dalam prilakunya semenjak kecil.
Duhai calon nahkoda yang akan membawa kelluargaku ke surga...
Mari kita hiasi rumah kita dengan cahaya-cahaya iman...
Aku dalam diam sengaja tak menampakkan diri, agar engkau benar-benar menemukanku dalam cahaya sujudmu
Aku tak banyak bicara karena aku takut ketika aku menyapa engkau terpesona pada apa yang kuucap
Aku menunduk malu, tak berani menatap mata binar yang engkau miliki, karena aku takut dapat memudarkan imanku.
Temukan aku wahai calon imam dalam sujudku...
Aku menunggu lisan ijab darimu...
#Sebelum Engkau Halal Bagiku
Picture
**kebersamaan**
Motto
SUKSES ITU PENTING, TAPI BERSYUKUR JAUH LEBIH SUKSES . SEMANGAT!!!
Jumat, 16 Desember 2011
aku ingin masuk surga MU
Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.
Dan jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya menjadi sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika saja suara itu berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti sudah kehilangan indera pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat.
Serta merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat luas dan bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari semua ras. Mereka tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa udara yang sangat panas menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat dengan kepalaku. Tengkukku hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan manusia yang melayang-layang oleh kepakan sayap mereka. Malaikatkah itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub, seperti seorang anak kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.
Tempat apa ini?
Di mana?
Semua orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang laki-laki yang berdiri di sampingku berkata,
“Inilah padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.
Padang Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku belum mati. Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa belum dishalati dan ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia fana. Aku belum menyaksikan kedahsyatan kiamat.
Aku belum mati.
Tanpa dikomando, semua orang—termasuk aku—digiring menuju ke arah yang aku tak tahu apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan perlahan menuju tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar suara menggema yang bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan satu-persatu nama-nama manusia. Aku menunggu dengan tak sabar dan menatap ke ujung sana, di suatu tempat seperti jurang. Tempat itu lebih bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di balik jurang itu.
“Itulah neraka yang panas, di bawah sana,” kata lelaki tadi.
Neraka? Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh wajahku. Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, berarti kiamat memang sudah lewat. Aku jadi takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka. Pikiranku kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala dalam keadaan tegang seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis dakwah. Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib. Yang sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid besar. Aku dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan orang-orang yang beriman. Ya, aku yakin aku akan masuk surga.
‘Ya Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama hamba-hambamu yang beriman,’ batinku penuh harap.
Aku semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan manusia yang kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan pastinya akan dijilati api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih mulus berbentuk wajah manusia. Kukira aku akan masuk surga. Surga. Surga, di manakah dia? Kulihat sebuah pintu yang sangat besar dan bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang dan dijaga banyak malaikat bersayap.
Kukira itulah pintu surga.
“Lihat, itulah Surga yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya bisa kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan isi pikiranku.
Aku mengangguk antusias.
Ya, itulah pintu surga. Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang menghalangi. Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di atas jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir luput dari mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku akan berjalan di atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah berjalan dengan tenang dan anggun. Para malaikat melayang di kedua sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?
“Ya, Rasulullah yang mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki surga,” jelas lelaki tadi.
Aku terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah.
‘Ya Rasul Allah, menolehlah,’ batinku.
Ingin sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun Beliau tak menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu surga yang tinggi. Disusul oleh orang-orang mulia yang telah diceritakan dalam buku-buku sejarah yang membosankan—para nabi, sahabat Rasul, dan para mujahidin. Mereka melewati jembatan rambut—begitu aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya. Ada yang berlari bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu adalah sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu surga sambil tersenyum.
Antrian melewati jembatan rambut itu seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah agak berbeda. Ada yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika melihat orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka terjatuh ke dalam neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema berkali-kali. Membuat bulu kudukku berdiri tegak-tegak.
Lalu kulihat orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Badrun. Dia jatuh dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat gerombolan pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu merah. Tetapi anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan sambil tertawa memasuki surga.
Darahku serasa menguap. Bukankah aku lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu? Bukankah aku tak pernah mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang yang ’saleh’? Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku yang seorang pendakwah dan dihormati umat?
Ada yang salah kukira. Tapi sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu membersihkan trotoar di depan rumahku. Juga pengemis yang saban hari menyambangi rumahku. Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian yang kuajari cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu menjadi makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang hati.
Aku menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa sombongnya aku menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan masuk surga sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang-orang yang kuanggap hina memasuki surga tanpa halangan?
Karena sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.
“Haekal Jayadi.”
Dan aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi amalku selama hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku berbesar hati adalah aku menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira ini berarti amalan baikku lebih banyak daripada amal buruk. Amal buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah berbuat kesalahan? Tentu saja surga akan kumasuki.
Tetapi ketika membuka buku itu, wajahku pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih sedikit dengan dosaku. Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin melihat apa saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.
Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya. Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?
Aku malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.
Aku shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku. Aku berjalan di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga yang menyibakkan gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya aku ke masjid. Aku bersujud lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah orang-orang yang sedang menatapku dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat indah dan panjang-panjang, bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk mengambil hati para makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku bersedekah banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu terhormat agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak mungkin. Tidak ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image bahwa aku manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku berkotbah dengan berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar aku tampil tidak mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku nantinya. Aku hanya mencari perhatian bukan mengharap ridha Allah.
Aku jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang sangat riya. Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya yang tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan kikir.
Apakah aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku ini adalah benar.
Akulah orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku adalah orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang hina di hadapan Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik. Aku berbohong, ingkar, dan berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku adalah orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin Islam lain. Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya yang dianggap bid’ah itu.
Aku juga orang yang sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan dengan pengemis kecuali ada kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau sudah begitu mau tak mau aku harus memberi agar dicap pemurah.
Ternyata jiwaku kotor, berlumuran dosa. Hatiku hitam dan keras bagai batu-batu gunung. Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari seorang pengamen gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.
Tiba-tiba namaku sekali lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu. Jembatan itu terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan rambut itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa jembatan itu hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya tak akan sulit bila lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin dan setengah malu atas dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan menyesakkan dada menghembus angkuh, membuatku bergoyang-goyang. Makin lama aku berjalan jembatan itu semakin menyempit dan akhirnya hanya selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang. Aku harus berusaha menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka bergejolak di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi tanganku berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu. Jadilah aku bergelantungan menyedihkan.
Semakin tipis jembatan itu semakin mengiris tanganku. Aku kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa menolongku sekarang. Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka. Akhirnya aku melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api neraka menjilati tubuhku.
Tiba-tiba aku terbangun dan merasakan wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil hidungku serta menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang sedang bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.
“Istigfar, Jay, istigfar…” katanya.
Ternyata banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali. Aku baru ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di sebuah sekolah sebagai pemberi materi untuk peserta.
Aku mimpi buruk.
“Mimpi apa kok pake teriak segala? ” tanya Reza, sahabat yang menemani undanganku.
“Habis tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.
Mimpi apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu mengingatkanku akan dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh sangat kotor dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku mendambakan surga-Mu, ya Allah.
Aku benar-benar menyesalkan, betapa aku manusia yang hina dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini. Aku tak pantas berada di dekat mereka bahkan memanggil nama mereka pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku gemetar seolah jasadku menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata mulai meleleh di ujung mataku dan aku menangis sesunggukan menyesali semuanya.
#copas dari fb Husnul Labib Muhabib
Dan jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya menjadi sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika saja suara itu berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti sudah kehilangan indera pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat.
Serta merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat luas dan bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari semua ras. Mereka tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa udara yang sangat panas menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat dengan kepalaku. Tengkukku hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan manusia yang melayang-layang oleh kepakan sayap mereka. Malaikatkah itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub, seperti seorang anak kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.
Tempat apa ini?
Di mana?
Semua orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang laki-laki yang berdiri di sampingku berkata,
“Inilah padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.
Padang Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku belum mati. Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa belum dishalati dan ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia fana. Aku belum menyaksikan kedahsyatan kiamat.
Aku belum mati.
Tanpa dikomando, semua orang—termasuk aku—digiring menuju ke arah yang aku tak tahu apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan perlahan menuju tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar suara menggema yang bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan satu-persatu nama-nama manusia. Aku menunggu dengan tak sabar dan menatap ke ujung sana, di suatu tempat seperti jurang. Tempat itu lebih bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di balik jurang itu.
“Itulah neraka yang panas, di bawah sana,” kata lelaki tadi.
Neraka? Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh wajahku. Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, berarti kiamat memang sudah lewat. Aku jadi takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka. Pikiranku kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala dalam keadaan tegang seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis dakwah. Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib. Yang sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid besar. Aku dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan orang-orang yang beriman. Ya, aku yakin aku akan masuk surga.
‘Ya Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama hamba-hambamu yang beriman,’ batinku penuh harap.
Aku semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan manusia yang kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan pastinya akan dijilati api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih mulus berbentuk wajah manusia. Kukira aku akan masuk surga. Surga. Surga, di manakah dia? Kulihat sebuah pintu yang sangat besar dan bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang dan dijaga banyak malaikat bersayap.
Kukira itulah pintu surga.
“Lihat, itulah Surga yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya bisa kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan isi pikiranku.
Aku mengangguk antusias.
Ya, itulah pintu surga. Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang menghalangi. Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di atas jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir luput dari mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku akan berjalan di atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah berjalan dengan tenang dan anggun. Para malaikat melayang di kedua sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?
“Ya, Rasulullah yang mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki surga,” jelas lelaki tadi.
Aku terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah.
‘Ya Rasul Allah, menolehlah,’ batinku.
Ingin sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun Beliau tak menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu surga yang tinggi. Disusul oleh orang-orang mulia yang telah diceritakan dalam buku-buku sejarah yang membosankan—para nabi, sahabat Rasul, dan para mujahidin. Mereka melewati jembatan rambut—begitu aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya. Ada yang berlari bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu adalah sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu surga sambil tersenyum.
Antrian melewati jembatan rambut itu seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah agak berbeda. Ada yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika melihat orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka terjatuh ke dalam neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema berkali-kali. Membuat bulu kudukku berdiri tegak-tegak.
Lalu kulihat orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Badrun. Dia jatuh dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat gerombolan pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu merah. Tetapi anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan sambil tertawa memasuki surga.
Darahku serasa menguap. Bukankah aku lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu? Bukankah aku tak pernah mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang yang ’saleh’? Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku yang seorang pendakwah dan dihormati umat?
Ada yang salah kukira. Tapi sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu membersihkan trotoar di depan rumahku. Juga pengemis yang saban hari menyambangi rumahku. Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian yang kuajari cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu menjadi makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang hati.
Aku menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa sombongnya aku menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan masuk surga sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang-orang yang kuanggap hina memasuki surga tanpa halangan?
Karena sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.
“Haekal Jayadi.”
Dan aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi amalku selama hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku berbesar hati adalah aku menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira ini berarti amalan baikku lebih banyak daripada amal buruk. Amal buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah berbuat kesalahan? Tentu saja surga akan kumasuki.
Tetapi ketika membuka buku itu, wajahku pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih sedikit dengan dosaku. Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin melihat apa saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.
Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya. Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?
Aku malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.
Aku shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku. Aku berjalan di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga yang menyibakkan gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya aku ke masjid. Aku bersujud lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah orang-orang yang sedang menatapku dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat indah dan panjang-panjang, bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk mengambil hati para makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku bersedekah banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu terhormat agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak mungkin. Tidak ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image bahwa aku manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku berkotbah dengan berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar aku tampil tidak mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku nantinya. Aku hanya mencari perhatian bukan mengharap ridha Allah.
Aku jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang sangat riya. Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya yang tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan kikir.
Apakah aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku ini adalah benar.
Akulah orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku adalah orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang hina di hadapan Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik. Aku berbohong, ingkar, dan berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku adalah orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin Islam lain. Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya yang dianggap bid’ah itu.
Aku juga orang yang sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan dengan pengemis kecuali ada kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau sudah begitu mau tak mau aku harus memberi agar dicap pemurah.
Ternyata jiwaku kotor, berlumuran dosa. Hatiku hitam dan keras bagai batu-batu gunung. Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari seorang pengamen gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.
Tiba-tiba namaku sekali lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu. Jembatan itu terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan rambut itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa jembatan itu hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya tak akan sulit bila lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin dan setengah malu atas dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan menyesakkan dada menghembus angkuh, membuatku bergoyang-goyang. Makin lama aku berjalan jembatan itu semakin menyempit dan akhirnya hanya selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang. Aku harus berusaha menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka bergejolak di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi tanganku berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu. Jadilah aku bergelantungan menyedihkan.
Semakin tipis jembatan itu semakin mengiris tanganku. Aku kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa menolongku sekarang. Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka. Akhirnya aku melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api neraka menjilati tubuhku.
Tiba-tiba aku terbangun dan merasakan wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil hidungku serta menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang sedang bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.
“Istigfar, Jay, istigfar…” katanya.
Ternyata banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali. Aku baru ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di sebuah sekolah sebagai pemberi materi untuk peserta.
Aku mimpi buruk.
“Mimpi apa kok pake teriak segala? ” tanya Reza, sahabat yang menemani undanganku.
“Habis tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.
Mimpi apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu mengingatkanku akan dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh sangat kotor dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku mendambakan surga-Mu, ya Allah.
Aku benar-benar menyesalkan, betapa aku manusia yang hina dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini. Aku tak pantas berada di dekat mereka bahkan memanggil nama mereka pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku gemetar seolah jasadku menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata mulai meleleh di ujung mataku dan aku menangis sesunggukan menyesali semuanya.
#copas dari fb Husnul Labib Muhabib
Andai Al-Quran Bicara
Andai Al-Quran Bicara
by Ba'g'oez Setioe Boedi on Wednesday, 20 April 2011 at 14:13
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra
Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana
menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu...pagi-pagi...surat-surat yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di mesjid.....
Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau
nonton berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...
Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka suratku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah
Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat utusanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam
akhirat
Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu
Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu
Sentuhilah aku kembali... Baca dan pelajari lagi aku.... Setiap datangnya
pagi dan sore hari Seperti dulu....dulu sekali... Waktu engkau masih kecil
, lugu dan polos... Di mesjid kecil kampungmu yang damai Jangan aku engkau
biarkan sendiri.... Dalam bisu dan sepi.... inilah salah satu tanda matinya hati.
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
#copas dari fb Ba'g'oez Setioe Boedi
by Ba'g'oez Setioe Boedi on Wednesday, 20 April 2011 at 14:13
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra
Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana
menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu...pagi-pagi...surat-surat yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di mesjid.....
Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau
nonton berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...
Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka suratku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah
Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat utusanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam
akhirat
Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu
Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu
Sentuhilah aku kembali... Baca dan pelajari lagi aku.... Setiap datangnya
pagi dan sore hari Seperti dulu....dulu sekali... Waktu engkau masih kecil
, lugu dan polos... Di mesjid kecil kampungmu yang damai Jangan aku engkau
biarkan sendiri.... Dalam bisu dan sepi.... inilah salah satu tanda matinya hati.
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
#copas dari fb Ba'g'oez Setioe Boedi
Mengapa kebanyakkan penghuni neraka adalah wanita ?
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dia berkata : Rasulullah Shallallahualaihi wa salam bersabda :
Aku berdiri di pintu surga (ternyata) kebanyakkan orang yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang lemah, sedangkan orang-orang yang kemuliaan (yaitu : orang berharta, orang yang mempunyai kedudukan dan kebahagiaan materil) tertahan (dari masuk surga), tetapi penduduk neraka diperintahkan untuk masuk neraka. Aku berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakkan yang masuk ke dalamnya adalah para wanita (Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)
Dan dihadits lain pun diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyAllahuanhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa salam, beliau bersabda :
Aku melihat-lihat ke dalam surga, Aku juga melihat-lihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakkan penghuninya adalah para wanita (Hadits shahih riwayat Bukhari dan diriwayatkan juga oleh Kutubbusittah)
Sungguh. Allah telah menampakkan kepada Nabi kita Shallallahu alaihi wasalam tentang Surga dan Neraka pada malam Isra Mi'raj, ketika itu beliau melihat-lihat kedalam surga, ternyata penghuninya adalah orang-orang yang fakir. Beliau juga melihat-lihat ke dalam neraka ternyata kebanyakkan penghuninya adalah para wanita. (sekarang yang kita tanyakan apakah para wanita yang telah dijelaskan oleh beliau pada masa beliau ?)
jawabnya :
Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam telah bersabda :
Sebaik-baiknya masa adalah pada masaku, kemudian sesudahnya ( sahabat,
tabi'in, tabiut tabi'in ).Hadits cukup di kenal dikalangan para ahli ilmu tentang keshahihannya) Lalu siapakah yang disebutkan oleh beliau tentang para wanita. Wallahu Alam
Kemudian apa kesalahan mereka ? apakah mereka tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ataukah mereka berkeyakinan bahwa agama itu harus memuaskan hawa nafsunya.
Atau mereka telah menganggap bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya dalam kehidupan dunia, kalaulah benar, berarti benar apa yang dikatakan oleh Allah Ta'ala :
Katakanlah: Apakah (mau) Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia saja perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat usaha yang sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang mengingkari (kufur) terhadap ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, maka hapuslah amal pekerjaan mereka, dan Kami mengadakan suatu pertimbangan terhadap (amalan) mereka di hari kiamat.Demikianlah, balasan mereka ialah jahanam, disebabkan mereka kufur/ingkar dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan Rasul-rasul- Ku sebagai olok-olok.(Surat Al-Kahfi (18) ayat 103-106)
Ketahuilah, Wanita muslimah.
Atau apakah mereka telah mengadakan adanya pilihan lain untuk urusannya,padahal Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, tapi bagi mereka ada pilihan lain agar sesuai dengan hatinya atau ikut-ikutan dengan orang-orang disekitarnya.
Padahal Allah Ta'ala mengatakan dalam firman-Nya :
Dan tidaklah (patut) bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah tersesat, sesat yang nyata (Surat Al-Ahzab (33) ayat 36)
Dan firman-Nya :
Dan barangsaiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (Surat Thaha (20) ayat 124)
Lalu kenapa mereka tidak ittiba kepada para wanita yang ada pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam yang beliau tetapkan bahwa pada masa beliaulah yang terbaik.
Bukankah pada masa sekarang ini semua telah mengikuti perbuatan al yahud dan an nashara, sehasta demi sehasta lalu sejengkal demi sejengkal.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa beliau bersabda :
Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya,yaitu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi lalu mencambukkannya ke tubuh manusia. kemudian sekelompok wanita yang mengenakan pakaian namun layaknya telanjang. Condong dan berjalan melenggak-lenggok dan kepalanya bergoyang seperti punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga,bahkan tidak dapat mencium aromanya, padahal aroma surga dapat tercium dalam jarak perjalanan segini dan segitu (Hadits shahih riwayat Muslim dan lainnya)
Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah melihat-lihat kejadian dunia yang akan datang dan berbagai peristiwa yang menakutkan, maka beliau mengetahui sesuatu yang dipakai oleh wanita, sehingga beliau menyebutkan hadits tersebut. Jadi kita tidak perlu heran dalam hal itu.
Berikut perkataan para ulama-ulama tentang hadits tersebut.
Al Hafizh Abu Al Khaththab berkata : Sabda beliau, Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya maksudnya adalah kelompok dari golongan segala hal.
Ibnu Faris di dalam kitab Al Mujmal mengatakan bahwa cambuk termasuk siksaan yang sesuai dan cambuk artinya mencampur suatu bagian dengan bagian yang lain.
Sabda beliau :
Sekelompok wanita yang mengenakan pakaian namun layak telanjang maksudnya dilihat dari segi baju mereka berpakaian, sedangkan dilihat dari segi agama mereka telanjang, karena mereka terbuka dan menampakkan lekuk-lekuk bentuk tubuh mereka dan sebagian kecantikannya
#copas dari fb Ba'g'oez Setioe Boedi
Aku berdiri di pintu surga (ternyata) kebanyakkan orang yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang lemah, sedangkan orang-orang yang kemuliaan (yaitu : orang berharta, orang yang mempunyai kedudukan dan kebahagiaan materil) tertahan (dari masuk surga), tetapi penduduk neraka diperintahkan untuk masuk neraka. Aku berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakkan yang masuk ke dalamnya adalah para wanita (Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)
Dan dihadits lain pun diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyAllahuanhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa salam, beliau bersabda :
Aku melihat-lihat ke dalam surga, Aku juga melihat-lihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakkan penghuninya adalah para wanita (Hadits shahih riwayat Bukhari dan diriwayatkan juga oleh Kutubbusittah)
Sungguh. Allah telah menampakkan kepada Nabi kita Shallallahu alaihi wasalam tentang Surga dan Neraka pada malam Isra Mi'raj, ketika itu beliau melihat-lihat kedalam surga, ternyata penghuninya adalah orang-orang yang fakir. Beliau juga melihat-lihat ke dalam neraka ternyata kebanyakkan penghuninya adalah para wanita. (sekarang yang kita tanyakan apakah para wanita yang telah dijelaskan oleh beliau pada masa beliau ?)
jawabnya :
Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam telah bersabda :
Sebaik-baiknya masa adalah pada masaku, kemudian sesudahnya ( sahabat,
tabi'in, tabiut tabi'in ).Hadits cukup di kenal dikalangan para ahli ilmu tentang keshahihannya) Lalu siapakah yang disebutkan oleh beliau tentang para wanita. Wallahu Alam
Kemudian apa kesalahan mereka ? apakah mereka tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ataukah mereka berkeyakinan bahwa agama itu harus memuaskan hawa nafsunya.
Atau mereka telah menganggap bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya dalam kehidupan dunia, kalaulah benar, berarti benar apa yang dikatakan oleh Allah Ta'ala :
Katakanlah: Apakah (mau) Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia saja perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat usaha yang sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang mengingkari (kufur) terhadap ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, maka hapuslah amal pekerjaan mereka, dan Kami mengadakan suatu pertimbangan terhadap (amalan) mereka di hari kiamat.Demikianlah, balasan mereka ialah jahanam, disebabkan mereka kufur/ingkar dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan Rasul-rasul- Ku sebagai olok-olok.(Surat Al-Kahfi (18) ayat 103-106)
Ketahuilah, Wanita muslimah.
Atau apakah mereka telah mengadakan adanya pilihan lain untuk urusannya,padahal Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, tapi bagi mereka ada pilihan lain agar sesuai dengan hatinya atau ikut-ikutan dengan orang-orang disekitarnya.
Padahal Allah Ta'ala mengatakan dalam firman-Nya :
Dan tidaklah (patut) bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah tersesat, sesat yang nyata (Surat Al-Ahzab (33) ayat 36)
Dan firman-Nya :
Dan barangsaiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (Surat Thaha (20) ayat 124)
Lalu kenapa mereka tidak ittiba kepada para wanita yang ada pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam yang beliau tetapkan bahwa pada masa beliaulah yang terbaik.
Bukankah pada masa sekarang ini semua telah mengikuti perbuatan al yahud dan an nashara, sehasta demi sehasta lalu sejengkal demi sejengkal.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa beliau bersabda :
Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya,yaitu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi lalu mencambukkannya ke tubuh manusia. kemudian sekelompok wanita yang mengenakan pakaian namun layaknya telanjang. Condong dan berjalan melenggak-lenggok dan kepalanya bergoyang seperti punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga,bahkan tidak dapat mencium aromanya, padahal aroma surga dapat tercium dalam jarak perjalanan segini dan segitu (Hadits shahih riwayat Muslim dan lainnya)
Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah melihat-lihat kejadian dunia yang akan datang dan berbagai peristiwa yang menakutkan, maka beliau mengetahui sesuatu yang dipakai oleh wanita, sehingga beliau menyebutkan hadits tersebut. Jadi kita tidak perlu heran dalam hal itu.
Berikut perkataan para ulama-ulama tentang hadits tersebut.
Al Hafizh Abu Al Khaththab berkata : Sabda beliau, Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya maksudnya adalah kelompok dari golongan segala hal.
Ibnu Faris di dalam kitab Al Mujmal mengatakan bahwa cambuk termasuk siksaan yang sesuai dan cambuk artinya mencampur suatu bagian dengan bagian yang lain.
Sabda beliau :
Sekelompok wanita yang mengenakan pakaian namun layak telanjang maksudnya dilihat dari segi baju mereka berpakaian, sedangkan dilihat dari segi agama mereka telanjang, karena mereka terbuka dan menampakkan lekuk-lekuk bentuk tubuh mereka dan sebagian kecantikannya
#copas dari fb Ba'g'oez Setioe Boedi
Sudahkah kita menjadi akhwat sejati wahai ukhty?
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari kulitnya yang halus tetapi dari kasih sayangnya yang tulus pada orang di sekitarnya.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di mana pun tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari ketenangannya tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari tubuhnya yang indah tetapi dari hati yang ada di balik itu.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuja tetapi dari komitmennya terhadap ikhwan yang dicintainya.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari jumlah persoalan hidup yang dibebankan tetapi dari tabahnya dia menjalani liku-liku kehidupan.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari merdu suaranya membaca Al-qur'an tetapi dari konsistensinya dia menjalankan apa yang dia baca.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari retorikanya ketika aksi, teteapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi, tetapi sebesar apa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari kehadirannya dalam syuro', tetapi dilihat dari kontribusinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari tasnya yang selalu membawa Al-qur'an, tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al-qur'an tersebut.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek, tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi waktu dengan baik.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari IP nya yang cumlaude, tetapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada umat.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana ia mampu membentengi hati.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari partisipasinya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari sholatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktivitas sholatnya.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari kasih sayangnya pada orang tua dan teman-teman, tetapi juga dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar-Rahim Ar-rahman.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari rutinitas dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa tetesan airmata penyesalan yang jatuh ketika sujud dan mengenang dosa-dosa.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatan.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari besarnya jilbab yang ia kenakan, tetapi juga dari besarnya semangat jihad dalam dirinya.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari tertutup rapat tubuhnya tetapi juga dari ketulusan menutupi aib saudaranya.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari lembut suaranya tetapi dari kelembutan hatinya yang mudah menangis melihat kedzoliman.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari manis senyumnya tetapi juga dari manisnya hati yang peduli pada mereka yang membutuhkan.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari tunduk pandangnya tetapi juga semangatnya menundukkan musuh-musuh Allah.
Semoga hari ini dan seterusnya kita bisa menjadi akhwat sejati, aamiin...
Note ini ana buat sebagai tanda cinta ana kepada antuna semua dalam rangka mempererat ukhuwah dan saling memotivasi untuk tetap istiqomah di jalan dakwah, ana uhibbuki fillah
#copas dari fb Hanina Syahiedah
Bukanlah dilihat dari kulitnya yang halus tetapi dari kasih sayangnya yang tulus pada orang di sekitarnya.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di mana pun tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari ketenangannya tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari tubuhnya yang indah tetapi dari hati yang ada di balik itu.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuja tetapi dari komitmennya terhadap ikhwan yang dicintainya.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari jumlah persoalan hidup yang dibebankan tetapi dari tabahnya dia menjalani liku-liku kehidupan.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari merdu suaranya membaca Al-qur'an tetapi dari konsistensinya dia menjalankan apa yang dia baca.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari retorikanya ketika aksi, teteapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi, tetapi sebesar apa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari kehadirannya dalam syuro', tetapi dilihat dari kontribusinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari tasnya yang selalu membawa Al-qur'an, tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al-qur'an tersebut.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek, tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi waktu dengan baik.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari IP nya yang cumlaude, tetapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada umat.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana ia mampu membentengi hati.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari partisipasinya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari sholatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktivitas sholatnya.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari kasih sayangnya pada orang tua dan teman-teman, tetapi juga dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar-Rahim Ar-rahman.
Akhwat sejati...
Tidak dilihat dari rutinitas dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa tetesan airmata penyesalan yang jatuh ketika sujud dan mengenang dosa-dosa.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatan.
Akhwat sejati...
Bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati...
Bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari besarnya jilbab yang ia kenakan, tetapi juga dari besarnya semangat jihad dalam dirinya.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari tertutup rapat tubuhnya tetapi juga dari ketulusan menutupi aib saudaranya.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari lembut suaranya tetapi dari kelembutan hatinya yang mudah menangis melihat kedzoliman.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari manis senyumnya tetapi juga dari manisnya hati yang peduli pada mereka yang membutuhkan.
Akhwat sejati...
Bukan hanya dilihat dari tunduk pandangnya tetapi juga semangatnya menundukkan musuh-musuh Allah.
Semoga hari ini dan seterusnya kita bisa menjadi akhwat sejati, aamiin...
Note ini ana buat sebagai tanda cinta ana kepada antuna semua dalam rangka mempererat ukhuwah dan saling memotivasi untuk tetap istiqomah di jalan dakwah, ana uhibbuki fillah
#copas dari fb Hanina Syahiedah
Ajari Keledai Membaca
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,
"Ajari keledai itu membaca.Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu. dan membuka sampulnya.
si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.
"Demikianlah." kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."
Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca?"
Nasrudin berkisah.
"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."
"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?"
Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
"Ajari keledai itu membaca.Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu. dan membuka sampulnya.
si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.
"Demikianlah." kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."
Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca?"
Nasrudin berkisah.
"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."
"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?"
Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
Duhai engkau yang jauh disana..
biar tidak pernah bertemu mata, tidak pernah bersua bersama, tidak mengungkap janji azimat yang nista..
karena itu bukanlah utama dalam membina mahligai bahagia..
cukuplah kata-kata yang membawa kita mengingati Allah,
cukuplah nasihat serta teguran yang membuatkan kita lebih mendekati Yang Maha Esa,
cukuplah diriku tahu dirimu punya iman dan Agama..
Hati kita Allah yang punya,
Hati kita Allah yang jaga,
Hati kita Allah tahu segalanya dan Allah mampu membolak balik hati hamba-hamba-Nya..
Jika benar engkau yang telah Allah pilihkan untukku, jagalah hatimu untukku yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak seperti mana aku juga sedang menjaga hatiku untukmu kerana-Nya..
maka berdoalah kerana itu senjata kita..
andai takdir hidup bersama pasti Allah akan mempermudahkan jalannya...
aamiin insyaAllah..
teruntukmu sang pangeran sholeh.. temuilah aku dalam sujud istikharahmu,
ku kan sabar menunggumu, jemput aku datang ketika saatnya tiba..
#Sebelum Engkau Halal BagiKu
biar tidak pernah bertemu mata, tidak pernah bersua bersama, tidak mengungkap janji azimat yang nista..
karena itu bukanlah utama dalam membina mahligai bahagia..
cukuplah kata-kata yang membawa kita mengingati Allah,
cukuplah nasihat serta teguran yang membuatkan kita lebih mendekati Yang Maha Esa,
cukuplah diriku tahu dirimu punya iman dan Agama..
Hati kita Allah yang punya,
Hati kita Allah yang jaga,
Hati kita Allah tahu segalanya dan Allah mampu membolak balik hati hamba-hamba-Nya..
Jika benar engkau yang telah Allah pilihkan untukku, jagalah hatimu untukku yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak seperti mana aku juga sedang menjaga hatiku untukmu kerana-Nya..
maka berdoalah kerana itu senjata kita..
andai takdir hidup bersama pasti Allah akan mempermudahkan jalannya...
aamiin insyaAllah..
teruntukmu sang pangeran sholeh.. temuilah aku dalam sujud istikharahmu,
ku kan sabar menunggumu, jemput aku datang ketika saatnya tiba..
#Sebelum Engkau Halal BagiKu
Sabtu, 10 Desember 2011
Tips untuk mencegah mata minus
Mengonsumsi tomat dan berenang bisa mencegah terjadinya mata minus (myopia), karena air membantu melembapkan mata. Bahkan belakangan ini biji pepaya juga bagus dimanfaatkan untuk mengatasi mata minus dengan cara dibuat minuman. Pernyataan itu dikatakan dr Rini Mahendra dari RS Internasional Bintaro dalam seminar awam bertema Mata minus (myopia): Pencegahan dan kiat-kiat penyehatannya, Sabtu (10/4) yang diselenggarakan RS Internasional Bintaro. ''Mengonsumsi tomat setiap hari bagus untuk kesehatan mata. Demikian juga dengan berenang sangat disarankan untuk segala usia karena pada saat berenang posisi tubuh datar, indeks bias air berbeda dengan udara sehingga melatih akomodasi otot-otot iris. Selain itu, air juga melembapkan mata,'' jelas Rini. Menurut spesialis mata ini, dalam sebulan perlu disediakan waktu selama tujuh jam sebanyak dua kali untuk mengurangi stres. Sehingga, pikiran menjadi segar. Lebih lanjut, Rini menjelaskan, menangis merupakan bentuk dari produksi cairan mata yang keluar untuk melumasi kornea dan bagian teratas jaringan mata supaya tidak kering. Salah satu penyebab mata minus adalah mata terlalu kering. ''Mata minus atau myopia (shortsighted eye) dikarenakan bola mata terlalu panjang ukurannya, yaitu 19-20 mm. Hal itu disebabkan kekurangmampuan mata untuk berakomodasi pada saat harus melihat benda atau objek dengan jelas pada jarak jauh atau jarak tertentu.'' Penyebab lainnya, lanjutnya, adalah faktor keturunan yang diturunkan dari ibu atau bapak kepada anaknya atau faktor kebiasaan yang salah, seperti terlalu suka membaca dengan jarak dekat, terlalu lama menonton televisi atau di depan komputer, bekerja di tempat yang pencahayaannya terlalu kuat atau terang, kurangnya aktivitas fisik di luar rumah seperti olahraga, gizi kurang, kelelahan, stres, kurang tidur, dan sebagainya. Menurut data, kata Rini, negara yang kaya sinar matahari, seperti Asia banyak dijumpai penderita mata minus. Hal itu disebabkan cahaya matahari bisa menyilaukan mata. ''Pijat di sektar mata dan otot-otot muka, otot-otot punggung dan leher sangat diperlukan setelah mata beraktivitas penuh, di samping gizi berimbang,'' ujar Rini Selain itu kita juga dapat mengkonsumsi banyak vitamin A ataupun obat-obatan mata di saat mata sudah minus dengan harapan minus bisa dikurangi atau bahkan disembuhkan, dengan sangat menyesal itu tidak mungkin terjadi, apalagi dengan nilai negatif yang sudah tinggi seperti ananda ini. Konsumsi banyak vitamin A ini sebenarnya bisa mencegah seseorang menderita masalah penglihatan dan bisa mencegah makin memburuknya keadaan untuk seseorang yang sudah punya masalah penglihatan. Tapi perlu ditekankan di sini, pencegahan akan benar-benar efektif ketika seseorang benar-benar menghindari tindakan-tindakan yang bisa menyebabkan masalah pada penglihatan, seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya di atas. Tapi untuk sembuh secara permanen untuk masalah mata ini antara lain dengan operasi menggunakan sinar laser pada mata minus yaitu dengan 2 metode, yaitu : PRK (photorefractive keratectomy) dan LASIK (Laser in-situ keratomileusis). Disebutkan bahwa dengan teknik LASIK akan mendapatkan hasil akhir yang lebih stabil, dengan tehnik menyayat kornea kemudian dilaser setelah itu ditutup kembali. Kadang pada prosedur laser ini, untuk jangka panjang, bisa terjadi kekeruhan dari kornea (selaput bening mata) yang disebut sebagai HAZE. Dengan teknik LASIK, haze tersebut jarang terjadi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dapat dipertimbangkan untuk menjalani tindakan LASIK pada penderita kelainan refraksi Yang terpenting diantaranya adalah: - Pasien harus mengerti tentang maksud, tujuan, baik dan buruknya tindakan LASIK ini. - Pasien harus berumur diatas 18 tahun. - Refraksi mata pasien harus telah stabil dalam kurun waktu satu tahun terakhir. - Pasien sudah tidak memakai soft contact lens minimal selama 14 hari berturut-turut, atau sudah tidak memakai hard contact lens selama 30 hari berturut-turut. - Bagian mata yang lain harus sehat - Pasien harus bersedia diperiksa ulang (kontrol) beberapa hari setelah tindakan LASIK tergantung pada dokter anda Di Jakarta telah ada Jakarta Eye Center untuk penanganan segala masalah mata. Sampai saat ini Jakarta Eye Center sudah mengerjakan LASIK ± 7000 kasus. Mengenai persentase keberhasilan tindakan LASIK dapat dilihat melalui pemeriksaan awal yang harus dilakukan, dan tergantung juga dari kondisi mata anda baik itu ketebalan kornea dan refraksi mata ananda, makin tinggi refraksi mata ananda makin dibutuhkan kornea yang tebal untuk mendapatkan hasil maksimal. Sebagaimana ananda ketahui, semua tindakan kedokteran mempunyai efek samping. Dalam tindakan LASIK, efek samping nyaris tidak ada. Hanya kadang-kadang timbul rasa sakit dalam proses penyembuhan yang berlangsung sehari. Rasa sakit ini dapat diatasi dengan obat-obatan penghilang rasa sakit (analgetik). Yang jarang terjadi adalah: - Kelebihan koreksi (Over Correction) - Kekurangan koreksi (Under Correction) - Regresi, artinya kelainan refraksi timbul kembali walaupun ringan dan ini biasanya terjadi pada penderita Miopia tinggi. Hal ini dapat dikoreksi dengan tindakan LASIK ulangan beberapa bulan kemudian. LASIK boleh dikerjakan sekaligus 2 mata, jadi kedua mata ananda bisa ditangani dengan satu kali tindakan operasi. Kami pernah buka website Jakarta Eye Center ini, dikatakan bahwa LASIK hanya dikerjakan pada hari Rabu, Kamis dan Jumat. Agar tidakan LASIK dapat segera dilakukan sebaiknya ananda datang untuk pemeriksaan awal sebelum hari yang telah disebutkan diatas, dengan memperhatikan syarat-syarat calon pasien LASIK. Proses penyembuhan membutuhkan waktu 1-2 hari. Di Eye Center ini terhimpun dokter-dokter Spesiali Mata yang telah ahli dalam prosedur LASIK, jadi tidak perlu khawatir, ananda akan ditangani oleh tangan yang benar. Perkiraan biaya untuk tindakan LASIK 2 mata yaitu Rp. 16.000.000,- ( enam belas juta rupiah ) biaya ini diluar biaya konsultasi, pemeriksaan penunjang dan obat setelah tindakan LASIK.
Untuk referensi lebih lanjut anda dapat mengunjungi website jakarta eye center ini di alamat http://www.jakarta-eye-center.com/indonesia/default.asp Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat
..bersyukur lah..
Jangan karena kita mendapat pendidikan, kita bisa seenaknya saja mencela orang yang kurang mendapat pendidikan, dalam istilah lain merendahkan orang lain dibawah kita..
Jangan karena kita orang berada, bisa seenaknya menginjak harga diri orang lain..
Jangan karena kita lebih cantik atau lebih tampan, bisa seenaknya menghancurkan perasaan orang lain..
Sadarilah, semua sudah menjadi ketentuan Sang Maha Kuasa..
Kita disini, dia disana, adalah ketentuanNya..
Semua adalah SAMA dimata Sang Maha Kuasa..
Tidak sepatutnya kita sombong atas apa yang ada dalam diri kita,, atas apa yang kita peroleh,, atas apa yang kita punya..
Sadari dan sadari, semuanya adalah berasal dariNya, dan pastinya akan kembali padaNya..
Tidak ada yang ABADI di dunia ini!
Yah,,, mungkin kita saat ini beruntung berada di posisi sekarang, yang tidak nelangsa,,
Tapi apakah kita tau bagaimana kehidupan kita selanjutnya??
Masih seberuntung hari ini kah?? Atau malah lebih beruntung??
Kita takkan pernah tau..
So, pandai-pandai lah kita mawas diri..
Sudah bersyukur kah kita atas apa yang kita punyai sekarang??
Bukankah lebih banyak orang yang tak seberuntung kita??
~maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?_
Marilah ini kita jadikan nasihat untuk diri kita masing-masing
Jangan karena kita orang berada, bisa seenaknya menginjak harga diri orang lain..
Jangan karena kita lebih cantik atau lebih tampan, bisa seenaknya menghancurkan perasaan orang lain..
Sadarilah, semua sudah menjadi ketentuan Sang Maha Kuasa..
Kita disini, dia disana, adalah ketentuanNya..
Semua adalah SAMA dimata Sang Maha Kuasa..
Tidak sepatutnya kita sombong atas apa yang ada dalam diri kita,, atas apa yang kita peroleh,, atas apa yang kita punya..
Sadari dan sadari, semuanya adalah berasal dariNya, dan pastinya akan kembali padaNya..
Tidak ada yang ABADI di dunia ini!
Yah,,, mungkin kita saat ini beruntung berada di posisi sekarang, yang tidak nelangsa,,
Tapi apakah kita tau bagaimana kehidupan kita selanjutnya??
Masih seberuntung hari ini kah?? Atau malah lebih beruntung??
Kita takkan pernah tau..
So, pandai-pandai lah kita mawas diri..
Sudah bersyukur kah kita atas apa yang kita punyai sekarang??
Bukankah lebih banyak orang yang tak seberuntung kita??
~maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?_
Marilah ini kita jadikan nasihat untuk diri kita masing-masing
Nasehat Bijak Einstein tentang Hidup Sukses
Tak perlu bersiap-siap mengernyitkan kening, kita hanya akan membahas ringan tentang filosofi hidup singkat Einstein. Tidak ada Fisika, nuklir, atau hal-hal jenius. Hanya small things tapi sering terlupakan, padahal berpengaruh besar terhadap kehidupan kita.
Apa saja nasehat bijak Einstein? yuk kita lihat.
1. Buntuti Terus Rasa Ingin Tahu Anda
“Saya bukan memiliki bakat khusus. Hanya selalu menikmati rasa ingin tahu saja.”
Membaca kutipan Einstein di atas membuat saya bertanya-tanya Seperti apa rasa ingin tahu itu? Saya selalu bertanya-tanya mengapa ada orang sukses, sementara banyak lainnya gagal; karena itu saya menghabiskan banyak waktu membaca banyak bahan. Mencari tahu koneksi berbagai hal terhadap kata ‘sukses’.
Mengejar jawaban rasa ingin tahu Anda adalah kunci rahasia kesukesan.
2. Tekun itu Tak Ternilai.
“Saya bukannya pintar, boleh dikatakan hanya bertahan lebih lama menghadapi masalah.”
Bayangkan seekor kura-kura di tengah rimba gunung, sementara dia ingin menuju pantai. Atau, apakah Anda setekun tunas mangga terus-menerus bertumbuh, berkembang sehingga akhirnya berbuah?
Ada ungkapan bagus popular di kalangan pegawai pos, ‘selembar prangko menjadi bernilai hanya karena ketika dia menempel pada surat hingga mengantarnya sampai ke tujuan’.
Jadilah seperti prangko, selesaikan apa yang sudah Anda mulai.
3. Fokus pada saat ini.
“Seorang pria yang bisa menyetir dengan aman sementara mencium gadis cantik, sebenarnya tidak memberi penghargaan yang layak untuk ciumannya itu.”
Einstein kok ngomongin tentang ciuman ya? Ah, itu kan hanya istilah saja, Tapi saya ingin cerita tentang kejadian ketika saya menjaga kebun duren di kebun. Begitu banyak kera seperti menunggu saya lengah dan menyikat durian ranum di atas pohon. Ayah saya bilang, saya tak akan bisa menembak dua kera sekaligus. Pengertian saya atas kata-kata beliau adalah, ‘saya bisa melakukan banyak hal, tapi bukan semua hal sekaligus’. Belajar untuk ‘berada di sini, saat ini’; berikan perhatian kepada apa yang sedang Anda kerjakan.
Energi terfokus adalah sumber kekuatan. Itulah perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan.
4. Imaginasi adalah kekuatan.
“Imaginasi adalah segalanya. Imaginasi adalah penarik masa depan. Imaginasi lebih penting daripada pengetahuan”
Ungkapan Einstein ini sangat terkenal. Apakah Anda berimajinasi setiap hari? Imaginasi lebih penting dari pengetahuan! Imaginasi memainkan satu babak awal dalam pentas hidup masa depan Anda. Lagi, kata Einstein, “Tanda kejeneniusan sesungguhnya bukanlah pengetahuan melainkan imaginasi.”
Sekali lagi, apakah Anda sudah melatih otot-otot imaginasi Anda setiap hari? Jangan biarkan otot-otot itu menjadi kurus dan sakit-sakitan. Hidup tanpa imajinasi seperti mengikuti aliran sungai, pasrah mengikuti apapun kemauan dan ke mana arahnya. Tak memiliki kuasa atas apapun terhadap pilihan pun keinginan. Menyedihkan.
5. Buat Kesalahan.
“Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru.”
Einstein tak pernah takut dengan kesalahan. Tak perlu alergi dengan kesalahan. Catat baik-baik, KESALAHAN bukan KEGAGALAN. Dua hal tadi berbeda. Kesalahan-kesalahan dapat membantu Anda menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih cerdas–jika Anda menggunakannya dengan tepat tentunya.
Carilah sesuatu berbau baru–something new–dari kesalahan Anda. Seperti sudah dibilang sebelumnya, jika ingin sukses, belajar lebih banyak dari kesalahan Anda.
6. Hidup pada saat ini.
“Saya tak pernah memikirkan masa depan–itu akan datang sesaat lagi.”
Satu-satunya jalan agar hidup Anda baik dimasa depan adalah hidup dengan baik pada saat sekarang. Ah, lagi-lagi nasehat bijak untuk menyikapi waktu dengan tepat oleh pakar fisika quantum Einstein.
Sangat tak mungkin mengubah kemarin karena sudah terjadi. Anda bisa lakukan sekarang adalah mengubah cara pandang Anda SAAT INI tentang kemarin agar menjadi lebih baik. Anda juga tidak bisa mengubah besok menjadi lebih baik, kecuali jika Anda melakukan yang terbaik pada saat ini.
Masalahnya hanya tentang waktu, dan waktu tidak pernah ke mana-mana kok
7. Hargai diri Anda.
“Berusahalah dengan keras bukan untuk menjadi sukses, tapi untuk menjadi lebih berharga.”
Tak perlu lah banting tulang untuk menjadi lebih sukes. Luangkan waktu Anda untuk menaikkan nilai diri Anda. Jika Anda memang bernilai, sukses akan datang menghampiri Anda. Apakah Einstein bekerja lebih keras untuk sukses? Saya pikir dia hanya terus menerus berinvestasi untuk meningkatkan nilai dirinya. Sukses datang sendiri kepadanya.
Kenali bakat dan berkah karunia-Nya kepada Anda. Belajarlah mengasah mereka menjadi lebih tajam, gunakan untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknyak kepada orang lain.
Bekerjalah untuk menjadi bernilai, sukses akan mengejar Anda. Apakah berlian harganya sama dengan kerikil? Anda punya jawabannya Keduanya mengalami tekanan berbeda sehingga membedakan nilainya.
8. Jangan mengharapkan Hasil Berbeda.
“Kegilaan: adalah melakukan sesuatu dengan cara sama berulang-ulang dan mengaharapkan hasil berbeda.”
Nasehat bijak Enstein di atas adalah favorit saya Anda jangan mengharapkan hasil menjadi lebih baik jika Anda masih bertahan dengan cara yang Anda pakai sekarang. Dengan ungkapan lain, Anda mimpi mengharapkan otot bisep Anda menjadi lebih ‘seksi’ jika masih mengangkat barbel ringan terus menerus.
Jika ingin hidup Anda berubah, Anda harus berubah. Mengubah cara pikir, cara pandang dan cara melakukan sesuatu. Ketika Anda mengubah pikiran Anda, mengubah Sudut pandang Anda, mengubah tindakan Anda, hidup Anda akan berubah dengan sendirinya.
Guys, bayangkan hal berikut: Ada seorang gadis manis tepat di depanmu. Bandingkan kedua aksi berikut. Pertama, kamu senyum tulus, reaksi si gadis adalah membalas senyummu. Kedua, kamu melotot padanya, bisa ditebak apa reaksi di gadis?
9. Pengetahuan terasah melalui Pengalaman
“Informasi bukanlah pengetahuan. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.”
Setuju pak Einstein, saya tak berani membantah nasehat bapak di atas. Anda lebih berpengalaman daripada saya
Pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Anda bisa mendiskusikan sebuah proyek; tapi diskusi itu hanya akan memberi Anda informasi. Anda harus melakukan proyek tersebut untuk ‘tahu’ apakah proyek tersebut berjalan dengan benar atau tidak. Anda harus melakukannya untuk mengatasi munculnya masalah-masalah ditengah proyek berjalan. Itu membuat Anda memiliki pengalaman baru dan bermanfaat.
Apa pesan Einstein? Carilah pengalaman! Jangan habiskan waktumu nonton sinetron cinta sementara dirimu setengah mati menginginkan pacar, misalnya Keluar dari duniamu sekarang dan pengalaman tak ternilai menunggumu di luar sana.
10. Pahami Aturan Main, Lalu Bermainlah Lebih Baik.
“Anda harus memahami aturan permainan. Kemudian Anda harus bermain lebih baik daripada pemain lain.”
Bagi Einstein, dia cukup memahami aturan-aturan dasar Fisika lalu berpikir dan bekerja lebih baik dibanding fisikawan lainnya. Sederhananya, anda cukup melakukan dua hal saja.
Pertama, yang harus anda lakukan adalah memahami ‘peraturan’ bagaimana cara Anda melakukannya. Kedua, Lakukan pekerjaan tersebut lebih baik dibanding orang lain. Jika Anda mampu melakukan dua hal ini dengan baik, sukses pasti masuk ke kantong Anda
Well, itu tadi 10 kutipan nasehat bijak Albert Einstein dan terjemahan bebas oleh saya Semoga bisa bermanfaat untuk menjadi inspirasi dan membuat hidup lebih bijak.
#Catatan seorang teman di facebook
Apa saja nasehat bijak Einstein? yuk kita lihat.
1. Buntuti Terus Rasa Ingin Tahu Anda
“Saya bukan memiliki bakat khusus. Hanya selalu menikmati rasa ingin tahu saja.”
Membaca kutipan Einstein di atas membuat saya bertanya-tanya Seperti apa rasa ingin tahu itu? Saya selalu bertanya-tanya mengapa ada orang sukses, sementara banyak lainnya gagal; karena itu saya menghabiskan banyak waktu membaca banyak bahan. Mencari tahu koneksi berbagai hal terhadap kata ‘sukses’.
Mengejar jawaban rasa ingin tahu Anda adalah kunci rahasia kesukesan.
2. Tekun itu Tak Ternilai.
“Saya bukannya pintar, boleh dikatakan hanya bertahan lebih lama menghadapi masalah.”
Bayangkan seekor kura-kura di tengah rimba gunung, sementara dia ingin menuju pantai. Atau, apakah Anda setekun tunas mangga terus-menerus bertumbuh, berkembang sehingga akhirnya berbuah?
Ada ungkapan bagus popular di kalangan pegawai pos, ‘selembar prangko menjadi bernilai hanya karena ketika dia menempel pada surat hingga mengantarnya sampai ke tujuan’.
Jadilah seperti prangko, selesaikan apa yang sudah Anda mulai.
3. Fokus pada saat ini.
“Seorang pria yang bisa menyetir dengan aman sementara mencium gadis cantik, sebenarnya tidak memberi penghargaan yang layak untuk ciumannya itu.”
Einstein kok ngomongin tentang ciuman ya? Ah, itu kan hanya istilah saja, Tapi saya ingin cerita tentang kejadian ketika saya menjaga kebun duren di kebun. Begitu banyak kera seperti menunggu saya lengah dan menyikat durian ranum di atas pohon. Ayah saya bilang, saya tak akan bisa menembak dua kera sekaligus. Pengertian saya atas kata-kata beliau adalah, ‘saya bisa melakukan banyak hal, tapi bukan semua hal sekaligus’. Belajar untuk ‘berada di sini, saat ini’; berikan perhatian kepada apa yang sedang Anda kerjakan.
Energi terfokus adalah sumber kekuatan. Itulah perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan.
4. Imaginasi adalah kekuatan.
“Imaginasi adalah segalanya. Imaginasi adalah penarik masa depan. Imaginasi lebih penting daripada pengetahuan”
Ungkapan Einstein ini sangat terkenal. Apakah Anda berimajinasi setiap hari? Imaginasi lebih penting dari pengetahuan! Imaginasi memainkan satu babak awal dalam pentas hidup masa depan Anda. Lagi, kata Einstein, “Tanda kejeneniusan sesungguhnya bukanlah pengetahuan melainkan imaginasi.”
Sekali lagi, apakah Anda sudah melatih otot-otot imaginasi Anda setiap hari? Jangan biarkan otot-otot itu menjadi kurus dan sakit-sakitan. Hidup tanpa imajinasi seperti mengikuti aliran sungai, pasrah mengikuti apapun kemauan dan ke mana arahnya. Tak memiliki kuasa atas apapun terhadap pilihan pun keinginan. Menyedihkan.
5. Buat Kesalahan.
“Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru.”
Einstein tak pernah takut dengan kesalahan. Tak perlu alergi dengan kesalahan. Catat baik-baik, KESALAHAN bukan KEGAGALAN. Dua hal tadi berbeda. Kesalahan-kesalahan dapat membantu Anda menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih cerdas–jika Anda menggunakannya dengan tepat tentunya.
Carilah sesuatu berbau baru–something new–dari kesalahan Anda. Seperti sudah dibilang sebelumnya, jika ingin sukses, belajar lebih banyak dari kesalahan Anda.
6. Hidup pada saat ini.
“Saya tak pernah memikirkan masa depan–itu akan datang sesaat lagi.”
Satu-satunya jalan agar hidup Anda baik dimasa depan adalah hidup dengan baik pada saat sekarang. Ah, lagi-lagi nasehat bijak untuk menyikapi waktu dengan tepat oleh pakar fisika quantum Einstein.
Sangat tak mungkin mengubah kemarin karena sudah terjadi. Anda bisa lakukan sekarang adalah mengubah cara pandang Anda SAAT INI tentang kemarin agar menjadi lebih baik. Anda juga tidak bisa mengubah besok menjadi lebih baik, kecuali jika Anda melakukan yang terbaik pada saat ini.
Masalahnya hanya tentang waktu, dan waktu tidak pernah ke mana-mana kok
7. Hargai diri Anda.
“Berusahalah dengan keras bukan untuk menjadi sukses, tapi untuk menjadi lebih berharga.”
Tak perlu lah banting tulang untuk menjadi lebih sukes. Luangkan waktu Anda untuk menaikkan nilai diri Anda. Jika Anda memang bernilai, sukses akan datang menghampiri Anda. Apakah Einstein bekerja lebih keras untuk sukses? Saya pikir dia hanya terus menerus berinvestasi untuk meningkatkan nilai dirinya. Sukses datang sendiri kepadanya.
Kenali bakat dan berkah karunia-Nya kepada Anda. Belajarlah mengasah mereka menjadi lebih tajam, gunakan untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknyak kepada orang lain.
Bekerjalah untuk menjadi bernilai, sukses akan mengejar Anda. Apakah berlian harganya sama dengan kerikil? Anda punya jawabannya Keduanya mengalami tekanan berbeda sehingga membedakan nilainya.
8. Jangan mengharapkan Hasil Berbeda.
“Kegilaan: adalah melakukan sesuatu dengan cara sama berulang-ulang dan mengaharapkan hasil berbeda.”
Nasehat bijak Enstein di atas adalah favorit saya Anda jangan mengharapkan hasil menjadi lebih baik jika Anda masih bertahan dengan cara yang Anda pakai sekarang. Dengan ungkapan lain, Anda mimpi mengharapkan otot bisep Anda menjadi lebih ‘seksi’ jika masih mengangkat barbel ringan terus menerus.
Jika ingin hidup Anda berubah, Anda harus berubah. Mengubah cara pikir, cara pandang dan cara melakukan sesuatu. Ketika Anda mengubah pikiran Anda, mengubah Sudut pandang Anda, mengubah tindakan Anda, hidup Anda akan berubah dengan sendirinya.
Guys, bayangkan hal berikut: Ada seorang gadis manis tepat di depanmu. Bandingkan kedua aksi berikut. Pertama, kamu senyum tulus, reaksi si gadis adalah membalas senyummu. Kedua, kamu melotot padanya, bisa ditebak apa reaksi di gadis?
9. Pengetahuan terasah melalui Pengalaman
“Informasi bukanlah pengetahuan. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.”
Setuju pak Einstein, saya tak berani membantah nasehat bapak di atas. Anda lebih berpengalaman daripada saya
Pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Anda bisa mendiskusikan sebuah proyek; tapi diskusi itu hanya akan memberi Anda informasi. Anda harus melakukan proyek tersebut untuk ‘tahu’ apakah proyek tersebut berjalan dengan benar atau tidak. Anda harus melakukannya untuk mengatasi munculnya masalah-masalah ditengah proyek berjalan. Itu membuat Anda memiliki pengalaman baru dan bermanfaat.
Apa pesan Einstein? Carilah pengalaman! Jangan habiskan waktumu nonton sinetron cinta sementara dirimu setengah mati menginginkan pacar, misalnya Keluar dari duniamu sekarang dan pengalaman tak ternilai menunggumu di luar sana.
10. Pahami Aturan Main, Lalu Bermainlah Lebih Baik.
“Anda harus memahami aturan permainan. Kemudian Anda harus bermain lebih baik daripada pemain lain.”
Bagi Einstein, dia cukup memahami aturan-aturan dasar Fisika lalu berpikir dan bekerja lebih baik dibanding fisikawan lainnya. Sederhananya, anda cukup melakukan dua hal saja.
Pertama, yang harus anda lakukan adalah memahami ‘peraturan’ bagaimana cara Anda melakukannya. Kedua, Lakukan pekerjaan tersebut lebih baik dibanding orang lain. Jika Anda mampu melakukan dua hal ini dengan baik, sukses pasti masuk ke kantong Anda
Well, itu tadi 10 kutipan nasehat bijak Albert Einstein dan terjemahan bebas oleh saya Semoga bisa bermanfaat untuk menjadi inspirasi dan membuat hidup lebih bijak.
#Catatan seorang teman di facebook
cinta yang sebenarnya
di saat kau pergi dengan yang lain,,
aku akan menjauh...
walau pun berattt...
dan jangan pernah berfikir aku akan membencimu..
karena, sesungguhnya ku tau :'), mungkin kebahagiaanmu bukan padaku..
:(
dan biarkanlah rasa ini tetap untukku..
:)
dan bila di saat kamu diasingkan dan dijauhi semua orang..
carilah aku..
aku akan selalu ada untukmu
aku akan menjauh...
walau pun berattt...
dan jangan pernah berfikir aku akan membencimu..
karena, sesungguhnya ku tau :'), mungkin kebahagiaanmu bukan padaku..
:(
dan biarkanlah rasa ini tetap untukku..
:)
dan bila di saat kamu diasingkan dan dijauhi semua orang..
carilah aku..
aku akan selalu ada untukmu
Rabu, 07 Desember 2011
~ ~Untukmu Duhai Calon Kekasihku~ ~
Aku memang bukan seorang wanita berparas cantik ataupun kaya.
Aku juga bukan seorang wanita sedermawan khadijah,sesabar fatimah dan sepintar Aisyah.Aku hanyalah seorang wanita biasa yang penuh kekurangan.
Inilah aku apa adanya yang akan mencintaimu juga apa adanya.
Yang mencintaimu karena Allah.
Yang bersedia menemani sepinya hari-harimu.Yang sLaLu bersedia meLengkapi kekuranganmu,yang slalu ingin membantu kesusahanmu,yang sangat senang bila melihat kau merasa senang.Yang slalu akan bersedia menghangatkan dinginnya tubuhmu.Dan yang bisa kau jadikan selimut tidurmu
Aku ingin mencintaimu secara sederhana,tanpa harus menyusahkanmu,memberatkanmu,membebanimu.Aku ingin mencintaimu apa adanya tanpa harus diada-adakan.Aku ingin mencintaimu tanpa melihat kekuranganmu.Aku ingin juga mencintaimu sepenuh hati tanpa harus terpaksa.
tp Aku…Aku juga wanita yang ingin kau cintai seperti perasaanku yang ingin mencintaimu apa adanya.Maka cintailah aku seperti aku mencintaimu.
Aku ingin hidup bahagia denganmu bukan karena materi,bukan karena hal duniawi,bukan,bukan itu.
Aku ingin hidup bahagia denganmu karena kau bersyukur telah memiliki aku.Karena kau ingin melaksanakan perintah-Nya.Karena kau ingin menjauhi larangan-Nya.Karena kau ingin mengikuti sunnah kekasih-Nya,Muhammad SAW.
Maka bahagiakanlah aku karena Allah sekalipun Kita hidup kekurangan.Aku tidak ingin yang lebih darimu karena aku tidak ingin memberatkanmu dan karena aku ingin mencintaimu untuk saling melengkapi satu sama lain.
Duhai Lelaki idamanku yang jauh disana…
inilah curhatku,inilah hasratku dan inilah kalimat-kalimat cintaku kepadamu
BiLa keLak nanti Tuhan menghadiahkanmu untuk hidupku,kan kulayani engkau sepenuhnya,kan kujaga engkau dari sesuatu yang menyakitkanmu dan kurawat engkau kala sakitmu dan juga kupenuhi apa yang kau mau dariku bila aku mampu.
Tapi jangan paksa aku bila aku tidak mampu melakukannya.Aku ingin kau memahami aku yang juga ingin memahamimu sepenuh hati.
Aku,kamu dan kekurangan ini,pahamilah cintaku.
IniLah aku yang ingin mencintaimu,menyanyangimu,membahagikanmu dan melengkapimu.
IniLah aku dan tentang perasaan cintaku
IniLah aku dan surat CinTaku
unTukmu duhai Kekasihku
Aku Mencintaimu diJaLan ALLah...
Salam Santun Senyum Manis...
Uhibuki Fillah...
#Sebelum Engkau Halal Bagiku
Langganan:
Komentar (Atom)

